Hermeneutika Kritis Jürgen Habermas


Hermeneutika pada mulanya hadir sebagai seni menafsirkan teks, terutama teks-teks suci dalam tradisi keagamaan. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti “menafsirkan” atau “menjelaskan”, dan berakar pada mitologi Hermes yang bertugas menyampaikan pesan para dewa kepada manusia. Dalam konteks teologi, hermeneutika berfungsi sebagai pedoman memahami kitab suci, namun seiring perkembangan pemikiran modern, ia berubah menjadi disiplin filsafat yang jauh lebih luas, mencakup upaya memahami teks sastra, sejarah, hingga fenomena sosial.

Perubahan besar itu mulai terlihat pada pemikiran Friedrich Schleiermacher. Tokoh inilah yang sering disebut sebagai peletak dasar hermeneutika modern karena berhasil melepaskannya dari dominasi teologi semata. Bagi Schleiermacher, hermeneutika adalah seni mengatasi kesalahpahaman. Untuk itu, ia menekankan dua pendekatan: pemahaman gramatikal yang menelusuri struktur bahasa dan aturan kebahasaan, serta pemahaman psikologis yang berusaha merekonstruksi maksud pengarang. Schleiermacher percaya bahwa melalui metode yang sistematis, seorang penafsir dapat kembali kepada maksud asli pengarang. Karena itulah hermeneutika yang ia kembangkan dikenal sebagai hermeneutika metodologis, yang mengutamakan ketepatan prosedur dalam proses pemahaman.

Namun gagasan ini kemudian dikritisi dan dikembangkan lebih jauh oleh Hans-Georg Gadamer. Dalam karya besarnya Truth and Method, Gadamer menolak anggapan bahwa pemahaman hanya sekadar mengulang maksud pengarang. Ia menegaskan bahwa setiap penafsir selalu membawa pra-pemahaman yang terbentuk oleh tradisi dan sejarahnya sendiri. Dengan demikian, pemahaman adalah pertemuan antara horizon pembaca dengan horizon teks, yang ia sebut sebagai “fusi horizon”. Hermeneutika dalam pandangan Gadamer bukan sekadar metode teknis, melainkan dimensi ontologis dari keberadaan manusia itu sendiri. Setiap proses memahami selalu terikat dengan cara manusia berada di dalam dunia dan berelasi dengan tradisi. Maka hermeneutika versi Gadamer disebut sebagai hermeneutika ontologis, karena menyangkut pertanyaan mendasar tentang eksistensi.

Di sinilah kemudian Jürgen Habermas masuk dengan kritiknya. Sebagai filsuf generasi kedua Mazhab Frankfurt, Habermas menilai bahwa hermeneutika Gadamer terlalu akomodatif terhadap tradisi. Tradisi, menurut Habermas, tidak selalu layak diterima begitu saja karena seringkali menyimpan distorsi ideologis yang melanggengkan dominasi. Hermeneutika tidak boleh berhenti pada pemahaman, tetapi harus menjadi instrumen kritis untuk membebaskan manusia dari belenggu ideologi dan komunikasi yang timpang.

Habermas menekankan bahwa seluruh ilmu pengetahuan digerakkan oleh kepentingan. Ia membedakan kepentingan teknis yang mendorong ilmu alam, kepentingan praktis yang menopang ilmu historis dan hermeneutis, serta kepentingan emansipatoris yang menjadi fondasi ilmu kritis. Hermeneutika kritis, dalam kerangka ini, berangkat dari kepentingan emansipatoris. Tugasnya bukan hanya menyingkap makna teks, tetapi juga membongkar distorsi komunikasi yang membuat manusia menerima dominasi sosial-politik secara tidak sadar.

Di balik setiap wacana selalu ada relasi kuasa, dan hermeneutika kritis bertugas menyingkap serta mengoreksi hal itu. Habermas menggagas konsep tindakan komunikatif, yaitu kondisi komunikasi yang ideal di mana semua pihak dapat berbicara secara setara tanpa tekanan dan manipulasi. Dalam kenyataan, kondisi ini jarang tercapai, sebab bahasa kerap digunakan untuk melanggengkan kekuasaan. Maka hermeneutika kritis menjadi sarana emansipasi: ia mengajak manusia tidak hanya memahami, melainkan juga sadar dan terbebas dari struktur dominasi yang tersembunyi.

SEKILAS KEHIDUPAN JURGEN HABERMAS
1. Masa Muda dan Masa Menempuh Pendidikan
Jurgen Habermas dilahirkan pada tanggal 18 Juni 1929 di kota Dusseldorf, Jerman. Dia dibesarkan di kota Gummersbach, kota kecil dekat dengan Dusseldorf. Ketika ia memasuki masa remaja diakhir Perang Dunia II, ia baru menyadari bersama bangsanya akan kejahatan rezim nasional-sosialis dibawah kepemimpinan Aldof Hitler. Mungkin hal ini yang mendorong pemikiran Habermas tentang pentingnya demokrasi di negaranya. [2]
Kemudian ia melanjutkan studinya di Universitas Gottingen, ia mempelajari kesusasteraan, sejarah, dan filsafat (Nicolai Hartmann) serta mengikuti kuliah psikologi dan ekonomi. Setelah itu, ia meneruskan studi filsafat di Universitas Bonn yang mana pada tahun 1954 ia meraih gelar “doktor filsafat” dengan sebuah disertasi berjudul Das Absolute und die Geshichte (Yang Absolut dan Sejarah) merupakan studi tentang pemikiran Schelling. Berbarengan dengan itu juga, ia mulai lebih aktif dalam diskusi-diskusi politik. Hal ini juga yang mendorong Habermas untuk masuk ke partai National Socialist Germany.
2. Menjadi peneliti dan asisten Theodor Adorno
Pada tahun 1956, Jurgen Habermas berkenalan dengan Institut Penelitian Sosial di Frankfurt dan menjadi asisten dari Theodor Adorno. Habermas belajar tentang sosiologi dari Theodor Adorno. Kemudian, ia mengambil bagian dalam suatu proyek penelitian mengenai sikap politik mahasiswa di Universitas Frankfurt. Pada tahun 1964, hasil penelitiannya dipublikasikan dalam sebuah buku Student und Politik (Mahasiswa dan Politik). Ketika Jurgen Habermas bekerja di Institut Penelitian Sosial tersebut, ia makin berkenalan dengan pemikiran Marxisme.
3. Menjadi Seorang Profesor di Bidang Filsafat dan Sosiologi
Sekitar waktu yang sama Habermas mempersiapkan Habilitations schift-nya. Karangan in diberi judul Strukturwandel der Oeffentlichkeit (Tranformasi struktural dari lingkup umum), suatu studi yang mempelajari sejauh mana demokrasi masih mungkin dalam masyarakat modern. Fokus utama dari tulisan itu adalah tentang berfungsi tidaknya pendapat umum dalam masyarakat modern. Pada kurun waktu yang sama, Habermas diundang menjadi profesor filsafat Universitas Hiedelberg (1961-1964). Pada tahun 1964, ia kembali ke Universitas Frankfurt, karena diangkat menjadi profesor sosiologi dan filsafat mengantikan Horkheimer.
Pemikiran Marx yang Habermas kenal sejak di Aliran Frankfurt cukup memengaruhi pemikiran dia secara utuh. Peranan ia sebagai seorang Marxis tampak ketika ia turut berperan serta dalam gerakan mahasiswa Frankfurt. sekitar tahun 1960-1970-an merupakan periode demonstrasi “gerakan mahasiswa kiri baru yang radikal” yang sedang marak. Sebagai seorang pemikir Marxis, ia cukup dikenal oleh gerakan mahsiswa tersebut, bahkan sempat menjadi ideolognya, walaupun keterlibatannya hanya sejauh sebagai pemikir Marxis. Habermas sangat populer dikalangan kelompok yang bernama Sozialistischer Deutsche Studentenbund (Kelompok Mahasiswa Sosialis Jerman).
4. Hubungan Jurgen Habermas dengan Mahasiswa dan Kritik terhadap Mahasiswa
Akan tetapi, kedekatan Jurgen Habermas dengan kelompok mahasiswa yang beraliran kiri radikal tidak terlalu lama. Hal itu dikarenakan, aksi-aksi mahasiswa yang mulai melewati ambang batas, yaitu dengan menggunakan tindak anarkis atau tindak kekerasan. Akibatnya, Habermas mengkritik tindakan mahasiswa yang melampaui batas tersebut. Akan tetapi, akibat dari kritikan tersebut, Jurgen Habermas harus bernasib sama dengan Max Horkheimer dan Theodor Adorno, yang terlibat konflik dengan mahasiswa.
Di dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1969 yang berjudul Protestbewegung und Hochschulreform (Gerakan oposisi dan pembahasan perguruan tinggi). Jurgen Habermas mengkritik secara pedas aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh mahasiswa kiri. Bagi Habermas, aksi-aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa kiri tersebut dikecam sebagai ‘revolusi palsu’, bentuk-bentuk pemerasan yang diulang kembali, dan counterproductive.
5. Masa-Masa Pensiun Jurgen Habermas
Akhirnya, Habermas dengan mahasiswa beraliran kiri tersebut makin bertentangan. Hal ini mendorong Habermas untuk keluar dari Universitas Frankfurt. Habermas menerima tawaran untuk bekerja di Max Planck Institut di kota Stanberg sebagai peneliti. Habermas bekerja di sana selama 10 tahun sampai lembaga penelitian ini dibubarkan. Selama di Max Planck Institut Habermas telah mencapai kematangan pemikiran filosofisnya.
Banyak karya-karya tulis yang dibuatnya selama di sana, antara lain: Legitimationsprobleme im Spatkapitalismus (Masalah legitimasi dalam kapitalisme kemudian hari, 1973), Kultur und Kritik (Kebudayaan dan Kritik, 1973); Zur Rekonstruktion des Historischen Materialismus (Demi rekonstruksi materialisme historis, 1976). Selain itu, masih ada satu karya tulis Habermas yang dapat dikatakan sebagai opus magnumnya dan puncak seluruh usaha ilmiahnya adalah Theorie des kommunikativen Handelns (Teori tentang praksis komunikatif, dua jilid, 1981). Pada akhirnya, Jurgen Habermas kembali ke Universitas Frankfurt sebagai profesor filsafat. Ia mengajar di Universitas Frankfurt sampai memasuki masa pensiunnya pada tahun 1994. Pada waktu itu, Habermas sudah memiliki reputasi internasional yang besar dan banyak diminta untuk berbicara di berbagai pertemuan atau diskusi ilmiah.[3]
TEORI KRITIS JURGEN HABERMAS
Jurgen Habermas merupakan tokoh terakhir dari Aliran Frankfurt.[4] Ketika Aliran Frankfurt secara resmi sudah tidak ada lagi dan teori yang ditawarkan kepada masyarakat berakhir dengan sikap yang pesimis. Jurgen Habermas menghidupkan kembali Aliran Frankfurt dan melanjutkan kembali teori kritis yang menjadi proyek dari para pendahulunya.
Menurut Jurgen Habermas, teori kritis bukanlah teori ilmiah, yang biasa dikenal dikalangan publik akademis dalam masyarakat kita. Jurgen Habermas menggambarkan Teori kritis sebagai suatu metodologi yang berdiri di dalam ketegangan dialektis antara filsafat dan ilmu pengetahuan (sosiologi). Teori Kritis tidak hanya berhenti pada fakta-fakta objektif, yang umumnya dianut oleh aliran positivistik. Teori kritis berusaha menembus realitas sosial sebagai fakta sosiologis, untuk menemukan kondisi yang bersifat trasendental yang melampaui data empiris. Dapat dikatakan, Teori kritis merupakan kritik ideologi. Teori kritis ini dilahirkan oleh Aliran Frankfurt memiliki maksud membuka seluruh selubung ideologis dan irasionalisme yang telah melenyapkan kebebasan dan kejernihan berpikir manusia modern. Akan tetapi, semua itu konsep Teori Kritis yang ditawarkan oleh para pendahulu Jurgen Habermas (Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse) mengalami sebuah kemacetan atau berakhir dengan kepesimisan.[5]
Teori Tindakan Komunikatif Habermas
Habermas melakukan perbaikan-perbaikan dan mencari penyebabnya pesimisme yang alami generasi pertama itu, sampai akhirnya ditemukan faktor metamorfosis Logos menjadi Mitos, dan cara menyelamatkannya adalah dengan mengambil nilai-nilai kritis emansifatoris dalam semangat modernisme.
Untuk melakukan perbaikan tersebut Habermas menempuh dua cara: pertama dengan memperlihatkan ambiguitas “pencerahan barat”(enlightment), yaitu antara ssi patologis dan sisi penemuan (individuasi) dan juga pendewasaan kehidupan sosial (sosialisasi) yang universal. Ambiguitas ini kemudian memengaruhi ilmu-ilmu sosial modern. Tapi yang menjadi penyebabnya sebenarnya adalah paradigma filsafat kesadaran, dan dianggap oleh Habermas telah menyingkirkan potensi Komunikatif masyarakat. Kedua, dengan mengubah makna logos dan rasio instrumental-yang berfungsi sebagai pengontrol proses-proses terjadinya pengetahuan onyektif dalam diri kita – yang terkadang dianggap mitos, menjadi “bahasa” dan komunikasi. Bahkan ia mengembangkannya menjadi rasio komunikatif, yakni kemampuan akal budi kita untuk memahami maksud-maksud orang lain secara timbal balik (communication).
Maka dari itu pergulatan antara logos dan mitos tidak perlu dianggap sebagai sejarah dominasi dan teror. Itupun jika pencapaian Logos dipahami sebagai diskursus argumentatif yang klaim validitasnya dapat dipertanggung jawabkan, diterima secara secara sukarela. Pendek kata, dengan memberi makna baru kepada Logos dengan segala kesadaran dan kemudaannya dalam membasmi mitos yang beroperasi di dalam komunikasi sosial.
Lalu kenapa Mitos begitu menakutkan dan membahayakan sehingga perlu dibasmi? Bahkan salah satu elemen yang penting yang harus dilenyapkan sejak era enlightment adalah Mitos. Hal ini dapat dimengerti karena janji-janji enlightment adalah mengangkat masyarakat modern menjadi masyarakat rasional. Sementara itu Mitos dianggap selalu menggiring orang ke jurang ideologi, yang akhirnya ia tidak tersentuh, dan pasti akan kehilangan ruh kritisnya, atau bahkan terkesan menjadi kebal terhadap kritik. Inilah yang menjadi consern Habermas dalam Teori Tindakan Komunikatifnya. Aksi pertama yang dicoba dilakukan oleh Teori Tindakan Komunikatif adalah mengurai dua perbedaan yang menjadi tanda modernitas: yakni sistem (system) dan dunia kehidupan (Lebenswelt). Hal ini yang tidak dipikirkan oleh Weber dan generasi pertama Frankfurt. Jadi Teori Tindakan Komunikatif berfungsi sebagai kritik dan pembuka tabir berbagai pendekatan.
PEMIKIRAN HERMENEUTIKA KRITIS HABERMAS
Dalam karya-karyanya Habermas tidak pernah membicarakan secara utuh hermeneutika dalam arti definitif, baik sebagai sains untuk memahami atau sebagai sebuah gagasan tunggal apalagi secara khusus, seperti tafsir atas sebuah teks suci. Namun jika hermeneutika diartikan sebagai cara memahami, maka Habermas mempunyai gagasan yang sangat unik, yaitu bagaimana cara ia memahami. Ia dianggap unik karena ia membawa karakter yang khas aliran Frankfrut, yaitu kritis. Maka dari itu hermeneutika Habermas dapat disebut sebagai hermeneutika kritis. Keunikannya juga dapat digambarkan dari metodenya yang dibangun dari sebuah klaim bahwa setiap bentuk penafsiran dipastikan ada bias dan unsur-unsur kepentingan politik, ekonomi, sosial, termasuk bias strata kelas, suku, dan gender. Dengan menggunakan metode ini, maka konsekunsinya kita harus curiga dan waspada -atau dengan kata lain kritis- terhadap bentuk tafsir atau pengetahuan atau jargon-jargon yang dipakai dalam sains dan agama.[6]
Yang menarik hermeneutika kritis Habermas sendiri juga berkaitan erat atau bias dengan kepentingan. Pertama, bahwa asas teori yang dibangun oleh Habermas tidak terlepas dari lingkungan akademiknya, yaitu universitas Frankfurt dan lingkungan komunitasnya, khususnya aliran Frankfrut. Karena itu Habermas tidak dapat melepaskan dari keterkaitannya pada para pendahulunya, malah ia dianggap pelanjut proyek generasi pertama aliran Frankfrut yang telah dianggap buntu. [7]
Kedua, sebagaimana telah dijelaskan, ternyata Habermas dibesarkan di lingkungan kesarjanaan yang sangat setia pada paradigma marxis. Berarti akar-akar pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Marxis di Jerman ini juga nampak pada teori ilmu pengetahuannya yang diklaim sebagai bersifat membebaskan. Membebaskan dari segala jenis keterasingan, penyimpangan dan perlakuan yang tidak manusiawi. Ekspresi yang khas Marxis. Bukan itu saja, ia pun harus membebaskan diri dalam arti dapat mengkritik ke dalam-diri (to be self-critical), dimaksudkan supaya ia tetap mandiri.
Karena teori Kritisnya ini maka hermeneutika Habermas disebut Hermeneutika Kritis. Di sini Habermas tidak lepas dari konsep memahami (verstehen) dan menjelaskan (eklarung) seperti yang telah dilontarkan sejak awal oleh Dilthey. Dua term ini sangat bermakna dan penting baginya. Fokus eklarung adalah untuk dapat menjelaskan isu-isu yang berkaitan dengan duni ilmu pengetahuan alam, sedangkan focus verstehen adalah pada isu-isu yang berhubungan dengan Geisteswissenschften (ilmu-ilmu kemanusiaan atau IPS). Namun Habermas berpendirian bahwa teori kritis yang terdahulu telah gagal untuk menjelaskan konsepsi rasio yang lebih luas. Solusi yang ditawarkan Habermas adalah mengubah penekanan filsafat dari hubungan subjek-objek menjadi komunikasi intersubyektif. dalam bukunya Knowledge and Human Interest ia menyatakan bahwa eksistensi masyarakat tergantung pada dua aksi: kerja atau aksi instrumental dan interaksi sosial atau aksi komunikatif, kedua bentuk aksi ini membentuk asas kepentingan manusia yang berbeda-beda. Pada gilirannya akan menggiring pembentukan jenis pengetahuan yang berbeda sama sekali. Hermeneutika dan metode pengkajian kritis yang tujuannnya adalah untuk memahami pihak lain lahir dari aksi komunikatif. Sedangkan kajian analisa empiris (empirical analytic) yang bertujuan mengontrol proses-proses terjadi pengetahuan obyektif lahir dari aksi instrumental.[8]

DAFTAR PUSTAKA
Franz Magnis Suseno, Berfilsafat dari Konteks, (Jakarta: Gramedia, 1991).
Jurgen Habermas, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), cet III.
K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, (Jakarta: Gramedia, 1983).
Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran, (Jakarta: Gema Insani, 2008).
Jurnal ISLAMIA,Th I No. 1, Maret, 2004.
F.Budi Hardiman Menuju Masyarakat Komunikatif. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2009

[1] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta: GIP, 2008) hlm. 181
[2] K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX Inggris-Jerman, (Jakarta: Gramedia, 1983) hlm. 213
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Jurgen_Habermas. Diunduh 21 April 2013 pkl 17.01.
[4] Aliran Frankfurt diidentikkan sebagai pengusung ide-ide Teori Kritis. Aliran ini pada awalnya adalah sebuah lembaga riset yang bergerak dan mengkaji bidang-bidang sosial. Lembaga riset tersebut didirikan pada tahun 1923 di lingkungan universitas di kota Frankfurt Jerman oleh sekelompok intelektual, seperti Max Horkheimer,Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan lainnya.
[5] Franz Magnis Suseno, Berfilsafat dari Konteks, (Jakarta: Gramedia, 1991) hlm. 37
[6] Malki Ahmad Nasir, Hemeneutika Kritis (studi kritis atas pemikiran Habermas), dalam Jurnal Islamia Edisi Perdana (Jakarta: Islamia, Maret 2004) hlm. 33
[7] Ibid.
[8] Ibid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar